News  

Orangtua Mengeluh, Sekolah SMA 20 Diduga Menjual Map Rapor Seharga Rp 75.000, begini Penjelasan dari Staf Disdik Propinsi Kepri

Bingkarinfo.my.id | Sekolah Menengah Atas (SMAN 20) yang berlokasi dijalan Pemuda Kelurahan Baloi Permai Batam Kota diduga kuat menjual Map rapor kepada siswa seharga Rp 75.000.

Kebijakan ini menuai protes dari sejumlah wali murid yang menganggap sebagai praktek pungutan liar (pungli), mengingat Map rapor tersebut bisa didapatkan dipasaran tanpa harus beli dari sekolah walaupun ada sedikit perbedaan namun tidak memberatkan bagi orang tua yang penghasilannya pas – Pasan.

“Saya sebagai wali murid tidak bisa berbuat banyak, dan pungutan liar ini sangat membebani orang tua murid, saya berharap praktek nakal ini harus ditindak lanjuti sebab sangat merusak moral bangsa dan juga merusak image guru yang seharuskan mencerdaskan anak bangsa,” kesalnya.

Kebijakan ini mulai berlaku pada awal semester baru dimana setiap siswa diminta untuk membayar sejumlah uang untuk mendapatkan map rapor dengan logo sekolah. Menurut salah satu wali murid N.Z merasa keberatan, anaknya pulang sekolah langsung bawa map rapor dan suruh bayar tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Hasil Konfirmasi di Sekolah dan Disdik Humas sekolah (Hudawi), saat diminta keterangan

menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk keseragaman, itupun koperasi yang menyediakan.

Namun beberapa orang tua tetap merasa tidak puas, mereka berencana untuk melaporkan hal ini kepada dinas pendidikan setempat karena dianggap memberatkan, namun hasilnya tidak memuaskan bahkan seolah olah mereka ikut menyetujui kebijakan sekolah setelah salah seorang staf Disdik Propinsi Kepulauan Riau tanpa memberitahu namanya karena tidak ingin dipublikasikan cetusnya dengan nada yang agak tinggi.

“Buat apa kesini habis – habiskan energi dan buang buang bensin disini hanya untuk melaporkan masalah ini lebih baik bayar aja , kan sama aja dengan uang bensinnya, mending bayar aja kalau mampu dari pada nanti anaknya bermasalah disanakan anaknya masih sekolah selama 3 tahun lagi disana. Kalau belum puas dengan penjelasan saya silahkan datang aja ke Tanjung pinang untuk lebih jelas kalau tidak tanya Tuhan aja,” jelasnya”

Orang tua ini merasa kecewa dan sedih atas penjelasan staf ini, padahal harapannya mendapat jawaban yang memuaskan dan juga ingin bertemu langsung mempertanyakan hal ini kepada kepala Disdik Propinsi Kepulauan Riau.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan yang resmi dari Dinas pendidikan terkait keluhan para wali murid ini, para orang tua berharap dapat meninjau kembali kebijakan tersebut atau setidaknya memberikan pilihan kepada siswa untuk membeli dari luar./ SZ